Senin, 04 Agustus 2008

Pendidikan dan Krisis Modernitas

PENDIDIKAN DAN KRISIS MODEERNITAS
(Analisis Eksistensi Pendidikan ditengah krisis Modeernitas)

Abad XX terlewatkan dengan meninggalkan guratan sejaarah yang cukup panjanng. Pemikiran yang mengedepankan raasionalitas, empirik dan lebih jauh menuju pola fikir positivistik telah mendorong manusia keruang yang sering kali disebut sebagai kehidupan modern. Apalagi ketika kehidupan modern telah termapankan menjaadi sebuah arus besar pemikiran yakni modernisme. Modernisme sering digambarkan sebagai gerakan pemikiran dan upaya pengenalan terhadap realitas yang diinspirasikan oleh Descartes, dan dikokohkan oleh gerakan pencerahan (Enlighment/Aufklarung) dan mengabadikan dirinya hingga abad ke dua puluh melalui dominasi sains dan kapitalisme. Sedang gaya hidup yang ditimbulkan oleh gerakan pemikiran disebut modernitas.
Dalam perkembangan paradigma modernisme dipandanmg gagal menuntaskan proyek pencerahan dan menyebabkan munculnya berbagai patologi modernitas atau krisis modernitas. Pauline M Rosenau dalam kajianya mengenai possmodernisme dan ilmu-ilmu sosial, mencatat setidaknya lima alasan penting gugatan kritik terhadap modernisme. Pertama, modernisme dipandang gagalmewujudkan perbaikan-perbaikan kearah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendekungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampi melepaskan diri dan kesewenang-wenangan dan penyalah hunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata pernyataan itu keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu. Dengan latar belakang demikian, modermisme mulai kehilangan landasan praksisnya untuk memenuhi janji-janji emansipatoris (pemerdekaan) yang dulu lantang disuarakanya. Modernisme yang dulu diagung-agungkan sebagai pembebas manusia dari belenggu mitos dan berhala kebudayaan abad pertengahan yang menindas, kini terbukti justru membelenggu manusia dengan mitos-mitos dan berhala-berhala baru yang bahkan lebih menindas dan memperbudak.
Kembali menurut I bambang sugiharto, modernisme telah menimbulkan akses buruk begi kehidupan manusia. Beberapa hal yang disebutkan antara lain bahwa modernisme telah menjebak manusia pada pandangan dualistik tentang realitas dunia, mekanisme mansia yang mengarah pada dehumanisasi, hilangnya wibawa nilai moral dan digantikan oleh standart kebenaran yang lain berupa sains dan tehnologi, jebakan materialisme, militerisme, serta liberalisme.
Pada masa selanjutnya ternyata kegagalan modernisme sebagai mode pemikiran yang telah merambah kesemua segmen kehidupan melalui proses yang disebut modernisasi. Proses ini pada akirnya berpengaruh langsung terhadap realitas kehidupan sosial. Banyak kritik tajam yang akirnya mengarah pada satu keetidakpercayaan terhadap pemikiran modernisme dan gaya hidup modernitas, kemudian muncul dalam gerakan posmodernisme yang mencoba melawaanya.
Sementara disisi lain pendidikan sebagai salah satu pemegang peran emansipatoris yang diangankan sebelumnya, tidak mampu berbuat banyak manghadapi hal itu. Pendidikan tak mampu lagi bergerak sebagai upaya transformasi daan hanya menjadi bagian dari pemapanannilai saja. Paling tidak pendidikan telah terjebak dalam konstruksi kapitalisme yang menjebaknya dalam tujuan-tujuan pragmatis. Sementara sampai saat ini pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari uasaha modernisasi, yang barakibat pada kegagalan melakukan fungsinya.
Mengikuti pendapat john Dewey “education is proses without end” pendidikan merupakan proses tanpa akir, bila pendidikan mandek pada satu titik, berarti pendidikan telah mengalami satu kejumudaan. Sehingga masyarakat diluar science berkembang dengan pesat sedangkan proses tersebut justru stagnan atau tidak ada perubahan, maka sama halnyapendidikan telah jalan ditempat.
Pendidikan merupakan persoalan individu maupun sosial yang keberadaanya sngat penting dalam dinamika kehidupan manusia. Peraan manusia sebagai kholifah Tuhan di muka bumi (menurut ajaran islam) tentunya harus dibekali dengan pertimbangan moral dan etika yang menjadi dasar dalam setiap gerak langkahnya. Dalam pengertian yang umum pendidikan merupakan upaya belajar menuju kedewasaan. Diamksudkan dewasa berarti individu dengan sendirinya mampu memilah dirinya berdasar hak dan kewajiban.
Belajar sendiri merupakan aktivitaf sosial yang mengambil posisi hanya dalam sebuah komunitas wacana, yang membawa bersama-sama refleksi dan pengalaman pengetahuan. Belajar juga merupakan konstruksi komunal yang memiliki legitimasi secara langsung pada karakter proses-proses sosial sehingga pada akirnya pendidikan merupakan proses pengalaman komunal tertentu.
Dalam perkembangan dinamika dunia pendidikan dewasa ini menurut mansour fakih sebagaimana dikutip Ajianto Nugroho dikenal tiga paradigma pendidikan. Pertama, paradigma konservatif. Asumsi yang mendasari teori ini adalah pada dasarnya ketimpangan dalam masyarakat merupakan suatu keniscayaan, suatu keharusan yang alamiah. Perubahan sosial melalui pendidikan dengan demikian bukanlah suatui yang harus diperjuangkan institusi pendidikan merupakan salah satu institusi yang melanggengkan hubungan yang tidak sederajat. Mereka yang bodoh, menderita, miskin, mengalami nasib begitu karena takdir tuhan daan salah mereka sendiri. Paradigma ini menafikan bentuk-bentuk konflik dan kontradiksi yang amat mengagungkan harmoni sosial (sicial order)
Kedua adalah paradigma liberal. Filsaafat yang menopang paradigma ini adalah liberalisme, yakni suatu pandangan yang menekankan pada pengembangan, perlindungan hak dan kebebasan individu, identifikasi problemm daan upaya perubahan sosial secara inskrimental demi menjaga stabilitas jangka panjang. Dalam konsep ini tradisi liberal berakar pada tradisi barat yang mengagungkan individualisme. Pengaruhnya dalam pendidikan dapat dilihat dengan mencermati komponen-komponenya. Dalam pendidikan pengaruh paham ini dapat dilihat dari mengutamakan hasill unggul, prestasi, kemampuan akademik, yang semua dialakukan dalam suasana kompetitif. Kategori sekolah unggulan dan non unggulan, rangkingisasi, insentif dan beasiswa hanya kepada mereka yang menonjol secara akademik adalah bentuk-bentuk kongrit bagaimana paradigma ini dijalankan.
Ketiga, paradigma kritis. Dalam paradigma ini urusan pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, membuat metodologi dan muatan pendidikan yang bertujuan untuk menghancurkan idiologi dominan yang menghambat perubahan sosial masyarakat kearah yang lebih baik. Tugas utamanya adalah menciptakan ruang dan media supaya sikap kritis terhadap sisitem yang menindas dan tidak adil dapat tumbuh, disertai dengan upaya advokasi masyarakat yang paling tidak diuntungkan ssehingga tercipta tatanan yang lebih adil. Penidikan tidak mungkin berdiri netral dan objektif.

Senin, 07 April 2008

KRISIS MODERNITAS

Buku terbaru Bernard Lewis The Crisis of Islam; Holy War and Unholy Terror terbilang laris-manis, masuk kategori best seller, karena mampu memancing pemerhati masalah-masalah keislaman di Barat yang belakangan ini makin bertambah.Adakah korelasi obyektif antara gerakan keagamaan yang ditandai bom bunuh diri dengan wacana keagamaan? Apakah bisa dibenarkan pendapat yang mengatakan bahwa penggerak aksi-aksi terorisme adalah doktrin? Pertanyaan seperti itu senantiasa muncul ke permukaan. Kendatipun jawabannya sampai saat ini belum bisa dipastikan yang tersebar luas di masyarakat dunia adalah dugaan kuat bahwa Al Qaeda itu dalang terorisme. Dalam dua minggu terakhir, dunia juga tersentak akibat ulah para teroris yang melakukan aksi di Riyadh dan Casablanca.Kenyataan seperti di atas telah menggugah, di antaranya Bernard Lewis, untuk menjelaskan perihal Islam kepada publik Barat: tipologi gerakan beserta doktrinnya. Yang dimaksud dengan "the forces" tentunya doktrin jihad. Jihad, menurut Bernard, telah dimaknai oleh Al Qaeda sebagai spirit untuk melakukan perlawanan terhadap Barat. Doktrin jihad ini pula yang memberikan justifikasi bagi pelembagaan perang suci untuk tujuan teror yang tidak suci (holy war and unholy terror). Dan, ini bisa ditemukan bila membaca buku-buku Sayyed Quthub, misalnya, al-Islam wa al-Jahiliyyah, yang menggambarkan Barat (Amerika) sebagai jahiliah.Saya menduga kuat bahwa di satu sisi memang terdapat problem doktrinal yang mesti direkonstruksi secara lebih mendasar sehingga mampu membaca realitas kekinian. Tapi hal itu tidaklah cukup karena ada problem lain yang jauh lebih mendasar, yaitu problem modernitas. Keterbelakangan dan kemunduran yang dialami umat Islam patut menjadi refleksi kita bersama, begitu juga modernisasi dan demokratisasi yang saat ini sedang digalakkan di dunia Islam. Ada problem ketidakadilan kolektif yang dirasakan umat Islam. Saya kadang kala tidak habis pikir, pemikir sekaliber Bernard Lewis, misalnya, yang secara tegas menginginkan agar modernisasi dan demokrasasi dikibarkan di dunia Islam, melihat hambatan terbesar dalam modernisasi adalah tafsir terhadap doktrin. Dalam Majalah Newsweek edisi tahun 2003, terbaca bahwa Bernard termasuk salah seorang tokoh yang merekomendasikan perang terhadap Irak guna mendongkel rezim Saddam Hussein, lalu membangun demokrasi di sana. Atas nama modernitas, Bernard mengabsahkan perang dan kekerasan.Modernitas pada akhirnya menjadi "modernisme" yang miskin nilai dan moralitas. Invasi Amerika dan sekutunya ke Irak, misalnya, bukan malah mengakhiri aksi terorisme, tetapi sebaliknya justru menyuburkan aksi-aksi terorisme. Buktinya, dalam beberapa pekan setelah invasi Amerika ke Irak, aksi terorisme meletus di Riyadh, Chechnya, Casablanca, dan mungkin akan menyusul beberapa tragedi yang serupa di negara lain. Pertumbuhan modernitas di pelbagai dunia Islam mengalami hambatan karena tradisi kekuasaan yang cenderung hegemonik dan represif. Kekuasaan masih diartikan sebagai pemegang otoritas sepenuhnya. Artinya, kekuasaan itu sebagai pemilik mutlak atas seluruh fasilitas yang terdapat dalam sebuah negara. Adapun rakyat dipahami sebagai gembala yang nunut terhadap penguasa. Oleh karena itu, yang terjadi adalah keterputusan antara kepentingan rakyat dan kepentingan penguasa. Konflik antara Liga Arab dan pemimpin Kuwait, perbedaan pendapat antara Mahmoud Abbas dan Yasser Arafat, dan lain-lain, menunjukkan, kekuasaan masih belum mengalami modernisasi sebagaimana mestinya. Karena itu, yang sebenarnya terjadi adalah konservatisme kekuasaan yang mempunyai korelasi obyektif dengan konservatisme Barat yang hanya berhenti pada kepentingan sempit serta menafikan keadilan.Modernitas juga tak mudah dibumikan di pelbagai dunia Islam karena adanya kultur yang secara mendasar tidak kompatibel dengan modernitas. Ini bukan berarti tradisi menolak modernitas, melainkan harus dipahami bahwa modernitas hendaknya dapat menyesuaikan diri dengan tradisi. Artinya, modernisasi yang bersifat radikalistik akan cenderung diartikan sebagai hegemoni baru. Di sini, modernisasi semestinya melibatkan tradisi dalam setiap proses perubahan dan transformasi masyarakat. Maka, perlu pembaruan yang dilakukan oleh tradisi sendiri, selain modernisasi harus mempertimbangkan kontekstualisasi zaman dan ruang. Perlu akulturasi Al Qaeda merupakan pemandangan yang mengisyaratkan secara tidak langsung bahwa modernitas yang dikembangkan di dunia Islam dalam beberapa kurun terakhir mengalami kegagalan. Oleh karenanya, perang melawan terorisme (Al Qaeda) sejatinya tidak mencabut akar-akar tradisi dan menggantinya dengan tradisi baru; masih diperlukan akulturasi antara tradisi dengan modernitas. Modernitas sebisa mungkin mengakomodasi tradisi dan perang melawan terorisme sejatinya harus memberikan ruang bagi modernisasi yang dikembangkan dari, oleh, dan untuk tradisi yang mencerminkan struktur masyarakat.Begitu juga tafsir keagamaan akan mengalami kemajuan yang signifikan bila modernisasi memberikan kesempatan bagi terciptanya suasana kondusif yang di dalamnya menjamin kebebasan, keadilan, kedamaian, dan keadaban. Situasi carut-marut, krisis ekonomi, dan krisis politik yang menimpa sebagian negara-negara Arab setidaknya menjadi alasan kenapa keberagamaan menjadi kaku dan rigit. Di sini lalu terlihat, betapa pentingnya meninjau kembali modernisasi yang selama ini dikembangkan di dunia Islam.

Senin, 28 Januari 2008

PEREMPUAN ADALAH CANDU BAGI LAKI-LAKI

Ungkapan “…….agama adalah candu masyarakat “ memang sangat populer dan penuh kontroversial berkaitan dengan agama. Karl marx adalah seorang komunis yang memandang agama sebagai sebuah institusi penindasan terhadap masyarakat. Selain itu agama juga dianggap sebagai pengasingan diri dan candu bagi masyarakat.
Penindasan dan kemiskinan pada masyarakat memang tidak bisa si pisahkan. Orang jatuh dalam kemiskilnan karena ada tindakan-tindakan penindasan pada mereka, dan ini paling nyata dilakukan oleh para kapitalis. Ekonomi kapitalis, dalam buku yang berjudul Das kapital, dituduh sebagai instansi yang paling bertanggung jawab atas kemiskinan yang dialami oleh masyarakat international. Kemiskinan itu disebabkan oleh struktur-struktur ekonomi yang menindas, yang diciptakan oleh kapitalis, demi memperbesar modal mereka. Berhadapan dengan struktur-struktur yang menindas orang tidak bisa berbuaat apa-apa kecuali pasrah, dalam ekonomi manusia menjadi budak dari produk-produk yang dihasilkan sendiri dengan menganggap modal lebih berharga dari pada tenaga kerja. Dalam agama manusia tunduk dan berada dibawah entitas suci yang diciptakan sendiri. Dengan menciptakan Tuhan, manusia telah merendahkan martabatnya sendiri, ia semakin asing dengan dirinya sendiri, dengan demikian agama tidak lain adalah instrumen penindas yang di ciptakan manusia sendiri. Agama memang muncul secara spontan dalam pikiran manusia sebagai bentuk disonansi, “rengekan golongan masyarakat yang tertindas”.
Agama adalah ciptaan orang-orang kapitalis untuk meninabobokan orang-orang kecil dengan doktrin-doktrin kesalehan. Dalam doktrin-doktrin agama itu, orang diharuskan hidup saleh dengan tapa yang berat dan menerima penderitaan dengan sukarela agar nanti bisa mencicipi kenikmatan di surga. Bagi marx adanya surga dan neraka tidak lain adalah ciptaan masyarakat, kususnya penguasa, untuk menakut-nakuti dan memperkuat hegemoni kekuasaanya terhadap masyarakat yang dipimpinya. Misalnya otang berhadapan dengan seorang pemimpin, agama mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah wakil Allah (otoritas tertinggi yang diciptakan manusia), maka yang dikatakan pemimpin harus diterima sebagai sesuatu yang benar tanpa sikap apapun. Sikap menolak berarti berarti melawan pada pemimpin dan berujung pada melawan Allah, pasti akan mendapat hukuman di neraka. Demikian sebalikny orang yang menerima keputusan pemimpin dengan suka rela, kendati itu membahayakan jiwa dan raganya, dapat dipandang sebagai dikap taan kepada seorang pemimpin dan pada giliranya dapat dipandang sebagai sikap saleh dan memuliakan Allah, dan perbuatan semacam itu akan mendatangkan ganjaran yakni kehidupan bahagia disurga.
Dengan tindakan agama yang seperti itu, manusia akan sangat tergantung pada agama yang sebenarnya adalah ciptaannya sendiri. Manusia menjadi tidak otonom, manusia harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang telah dibuatnya sendiri. Ketika manusia masih hidup sebagai mahkluk yang bebas –tanpa agama- ia dengan leluasa dapat membuat aturan-aturan, sanksi, ritus, dan segala macam yang berkaitan denganya. Tetapi ketika ia mulai masuk pada agama dan meyakininya, ia sekarang tunduk dengan aturan yang dibuatnya, tundulk dengan ritus yang disusunya sendiri. Pada saat itulah ia terasing daari dirinya sendiri. Manusia telah melemparkan dirinya keluar, dan tunduk atas ciptanyya sendiri, yang tidak lain adalah bayangan-bayangan indah dari makhluk yang menderita, yang merindukan adanya otoritas yang melindunganya, tetapi justru terjadi adalah otoritas yang membelenggu daan menambah penderitaanya berlipat ganda.
Agama yang diciptakan oleh orang-orang penguasa akan menghasilkan sebuah ilusi-ilusi tentang dirinya sendiri. Agama dapat memberikan pembebasan dari penindasan yakni dengan sikap pasrah, inilah yang disebut dengan sifat fetisisme dengan merujuk pada benda-benda meterial yang memiliki kekuatan supranatural. Fetisisme agama itu muncul ketika ilusi-ilusi dalam kehidupan manusia menungkat secara tidak terbendung, dan ilusi itu menjadi doktrin yang mati, yang harus ditaati oleh setiap orang. Fatisisme akan melahirkan “harapan semu orang tertindas” yang memang diinginkan oleh seorang penguasa.
Agama memang memberikan sebuah harapan-harapan semu, agama dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seseorang yang telah terbiuaas oleh opium/candu dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang daihadapinya. Ketika orang dalam penderitaan, yang dibutuhkan adalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup kendati hanya sesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untuk meringankan penderitaan dalam dunia real.
Tidak ubahnya dengan agama, perempuan juga merupakan salah satu candu bagi seorang laki-laki. Ketika seorang laki-laki sedang menghadapi masalah dalam kehidupanya, seorang perempuan mampu manghadirkan sebuah harapan-harapan dan hiburan sehingga dia dapat melupakan masalahnya meski dalam waktu sekejap.