Senin, 28 Januari 2008

PEREMPUAN ADALAH CANDU BAGI LAKI-LAKI

Ungkapan “…….agama adalah candu masyarakat “ memang sangat populer dan penuh kontroversial berkaitan dengan agama. Karl marx adalah seorang komunis yang memandang agama sebagai sebuah institusi penindasan terhadap masyarakat. Selain itu agama juga dianggap sebagai pengasingan diri dan candu bagi masyarakat.
Penindasan dan kemiskinan pada masyarakat memang tidak bisa si pisahkan. Orang jatuh dalam kemiskilnan karena ada tindakan-tindakan penindasan pada mereka, dan ini paling nyata dilakukan oleh para kapitalis. Ekonomi kapitalis, dalam buku yang berjudul Das kapital, dituduh sebagai instansi yang paling bertanggung jawab atas kemiskinan yang dialami oleh masyarakat international. Kemiskinan itu disebabkan oleh struktur-struktur ekonomi yang menindas, yang diciptakan oleh kapitalis, demi memperbesar modal mereka. Berhadapan dengan struktur-struktur yang menindas orang tidak bisa berbuaat apa-apa kecuali pasrah, dalam ekonomi manusia menjadi budak dari produk-produk yang dihasilkan sendiri dengan menganggap modal lebih berharga dari pada tenaga kerja. Dalam agama manusia tunduk dan berada dibawah entitas suci yang diciptakan sendiri. Dengan menciptakan Tuhan, manusia telah merendahkan martabatnya sendiri, ia semakin asing dengan dirinya sendiri, dengan demikian agama tidak lain adalah instrumen penindas yang di ciptakan manusia sendiri. Agama memang muncul secara spontan dalam pikiran manusia sebagai bentuk disonansi, “rengekan golongan masyarakat yang tertindas”.
Agama adalah ciptaan orang-orang kapitalis untuk meninabobokan orang-orang kecil dengan doktrin-doktrin kesalehan. Dalam doktrin-doktrin agama itu, orang diharuskan hidup saleh dengan tapa yang berat dan menerima penderitaan dengan sukarela agar nanti bisa mencicipi kenikmatan di surga. Bagi marx adanya surga dan neraka tidak lain adalah ciptaan masyarakat, kususnya penguasa, untuk menakut-nakuti dan memperkuat hegemoni kekuasaanya terhadap masyarakat yang dipimpinya. Misalnya otang berhadapan dengan seorang pemimpin, agama mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah wakil Allah (otoritas tertinggi yang diciptakan manusia), maka yang dikatakan pemimpin harus diterima sebagai sesuatu yang benar tanpa sikap apapun. Sikap menolak berarti berarti melawan pada pemimpin dan berujung pada melawan Allah, pasti akan mendapat hukuman di neraka. Demikian sebalikny orang yang menerima keputusan pemimpin dengan suka rela, kendati itu membahayakan jiwa dan raganya, dapat dipandang sebagai dikap taan kepada seorang pemimpin dan pada giliranya dapat dipandang sebagai sikap saleh dan memuliakan Allah, dan perbuatan semacam itu akan mendatangkan ganjaran yakni kehidupan bahagia disurga.
Dengan tindakan agama yang seperti itu, manusia akan sangat tergantung pada agama yang sebenarnya adalah ciptaannya sendiri. Manusia menjadi tidak otonom, manusia harus tunduk pada ketentuan-ketentuan yang telah dibuatnya sendiri. Ketika manusia masih hidup sebagai mahkluk yang bebas –tanpa agama- ia dengan leluasa dapat membuat aturan-aturan, sanksi, ritus, dan segala macam yang berkaitan denganya. Tetapi ketika ia mulai masuk pada agama dan meyakininya, ia sekarang tunduk dengan aturan yang dibuatnya, tundulk dengan ritus yang disusunya sendiri. Pada saat itulah ia terasing daari dirinya sendiri. Manusia telah melemparkan dirinya keluar, dan tunduk atas ciptanyya sendiri, yang tidak lain adalah bayangan-bayangan indah dari makhluk yang menderita, yang merindukan adanya otoritas yang melindunganya, tetapi justru terjadi adalah otoritas yang membelenggu daan menambah penderitaanya berlipat ganda.
Agama yang diciptakan oleh orang-orang penguasa akan menghasilkan sebuah ilusi-ilusi tentang dirinya sendiri. Agama dapat memberikan pembebasan dari penindasan yakni dengan sikap pasrah, inilah yang disebut dengan sifat fetisisme dengan merujuk pada benda-benda meterial yang memiliki kekuatan supranatural. Fetisisme agama itu muncul ketika ilusi-ilusi dalam kehidupan manusia menungkat secara tidak terbendung, dan ilusi itu menjadi doktrin yang mati, yang harus ditaati oleh setiap orang. Fatisisme akan melahirkan “harapan semu orang tertindas” yang memang diinginkan oleh seorang penguasa.
Agama memang memberikan sebuah harapan-harapan semu, agama dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seseorang yang telah terbiuaas oleh opium/candu dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang daihadapinya. Ketika orang dalam penderitaan, yang dibutuhkan adalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup kendati hanya sesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untuk meringankan penderitaan dalam dunia real.
Tidak ubahnya dengan agama, perempuan juga merupakan salah satu candu bagi seorang laki-laki. Ketika seorang laki-laki sedang menghadapi masalah dalam kehidupanya, seorang perempuan mampu manghadirkan sebuah harapan-harapan dan hiburan sehingga dia dapat melupakan masalahnya meski dalam waktu sekejap.

Tidak ada komentar: