Buku terbaru Bernard Lewis The Crisis of Islam; Holy War and Unholy Terror terbilang laris-manis, masuk kategori best seller, karena mampu memancing pemerhati masalah-masalah keislaman di Barat yang belakangan ini makin bertambah.Adakah korelasi obyektif antara gerakan keagamaan yang ditandai bom bunuh diri dengan wacana keagamaan? Apakah bisa dibenarkan pendapat yang mengatakan bahwa penggerak aksi-aksi terorisme adalah doktrin? Pertanyaan seperti itu senantiasa muncul ke permukaan. Kendatipun jawabannya sampai saat ini belum bisa dipastikan yang tersebar luas di masyarakat dunia adalah dugaan kuat bahwa Al Qaeda itu dalang terorisme. Dalam dua minggu terakhir, dunia juga tersentak akibat ulah para teroris yang melakukan aksi di Riyadh dan Casablanca.Kenyataan seperti di atas telah menggugah, di antaranya Bernard Lewis, untuk menjelaskan perihal Islam kepada publik Barat: tipologi gerakan beserta doktrinnya. Yang dimaksud dengan "the forces" tentunya doktrin jihad. Jihad, menurut Bernard, telah dimaknai oleh Al Qaeda sebagai spirit untuk melakukan perlawanan terhadap Barat. Doktrin jihad ini pula yang memberikan justifikasi bagi pelembagaan perang suci untuk tujuan teror yang tidak suci (holy war and unholy terror). Dan, ini bisa ditemukan bila membaca buku-buku Sayyed Quthub, misalnya, al-Islam wa al-Jahiliyyah, yang menggambarkan Barat (Amerika) sebagai jahiliah.Saya menduga kuat bahwa di satu sisi memang terdapat problem doktrinal yang mesti direkonstruksi secara lebih mendasar sehingga mampu membaca realitas kekinian. Tapi hal itu tidaklah cukup karena ada problem lain yang jauh lebih mendasar, yaitu problem modernitas. Keterbelakangan dan kemunduran yang dialami umat Islam patut menjadi refleksi kita bersama, begitu juga modernisasi dan demokratisasi yang saat ini sedang digalakkan di dunia Islam. Ada problem ketidakadilan kolektif yang dirasakan umat Islam. Saya kadang kala tidak habis pikir, pemikir sekaliber Bernard Lewis, misalnya, yang secara tegas menginginkan agar modernisasi dan demokrasasi dikibarkan di dunia Islam, melihat hambatan terbesar dalam modernisasi adalah tafsir terhadap doktrin. Dalam Majalah Newsweek edisi tahun 2003, terbaca bahwa Bernard termasuk salah seorang tokoh yang merekomendasikan perang terhadap Irak guna mendongkel rezim Saddam Hussein, lalu membangun demokrasi di sana. Atas nama modernitas, Bernard mengabsahkan perang dan kekerasan.Modernitas pada akhirnya menjadi "modernisme" yang miskin nilai dan moralitas. Invasi Amerika dan sekutunya ke Irak, misalnya, bukan malah mengakhiri aksi terorisme, tetapi sebaliknya justru menyuburkan aksi-aksi terorisme. Buktinya, dalam beberapa pekan setelah invasi Amerika ke Irak, aksi terorisme meletus di Riyadh, Chechnya, Casablanca, dan mungkin akan menyusul beberapa tragedi yang serupa di negara lain. Pertumbuhan modernitas di pelbagai dunia Islam mengalami hambatan karena tradisi kekuasaan yang cenderung hegemonik dan represif. Kekuasaan masih diartikan sebagai pemegang otoritas sepenuhnya. Artinya, kekuasaan itu sebagai pemilik mutlak atas seluruh fasilitas yang terdapat dalam sebuah negara. Adapun rakyat dipahami sebagai gembala yang nunut terhadap penguasa. Oleh karena itu, yang terjadi adalah keterputusan antara kepentingan rakyat dan kepentingan penguasa. Konflik antara Liga Arab dan pemimpin Kuwait, perbedaan pendapat antara Mahmoud Abbas dan Yasser Arafat, dan lain-lain, menunjukkan, kekuasaan masih belum mengalami modernisasi sebagaimana mestinya. Karena itu, yang sebenarnya terjadi adalah konservatisme kekuasaan yang mempunyai korelasi obyektif dengan konservatisme Barat yang hanya berhenti pada kepentingan sempit serta menafikan keadilan.Modernitas juga tak mudah dibumikan di pelbagai dunia Islam karena adanya kultur yang secara mendasar tidak kompatibel dengan modernitas. Ini bukan berarti tradisi menolak modernitas, melainkan harus dipahami bahwa modernitas hendaknya dapat menyesuaikan diri dengan tradisi. Artinya, modernisasi yang bersifat radikalistik akan cenderung diartikan sebagai hegemoni baru. Di sini, modernisasi semestinya melibatkan tradisi dalam setiap proses perubahan dan transformasi masyarakat. Maka, perlu pembaruan yang dilakukan oleh tradisi sendiri, selain modernisasi harus mempertimbangkan kontekstualisasi zaman dan ruang. Perlu akulturasi Al Qaeda merupakan pemandangan yang mengisyaratkan secara tidak langsung bahwa modernitas yang dikembangkan di dunia Islam dalam beberapa kurun terakhir mengalami kegagalan. Oleh karenanya, perang melawan terorisme (Al Qaeda) sejatinya tidak mencabut akar-akar tradisi dan menggantinya dengan tradisi baru; masih diperlukan akulturasi antara tradisi dengan modernitas. Modernitas sebisa mungkin mengakomodasi tradisi dan perang melawan terorisme sejatinya harus memberikan ruang bagi modernisasi yang dikembangkan dari, oleh, dan untuk tradisi yang mencerminkan struktur masyarakat.Begitu juga tafsir keagamaan akan mengalami kemajuan yang signifikan bila modernisasi memberikan kesempatan bagi terciptanya suasana kondusif yang di dalamnya menjamin kebebasan, keadilan, kedamaian, dan keadaban. Situasi carut-marut, krisis ekonomi, dan krisis politik yang menimpa sebagian negara-negara Arab setidaknya menjadi alasan kenapa keberagamaan menjadi kaku dan rigit. Di sini lalu terlihat, betapa pentingnya meninjau kembali modernisasi yang selama ini dikembangkan di dunia Islam.
Senin, 07 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar